Friday, December 19, 2008

Lebih Suka Permen Dari Pada Uang


(image dipinjam dari artikel Om Roy di http://royghofur.wordpress.com)

Beberapa saat yang lalu, saat gue sedang dalam perjalanan kembali ke kantor dari meeting yang jauhnya minta ampun, tepatnya di lampu merah Carrefour Lebak Bulus, Gue melihat seorang anak perempuan kecil seperti biasa minta-minta uang ke mobil-mobil yang sedang berhenti. Waktu sedang mengantri belok kanan ke arah Pondok Indah, perhatian gue yang saat itu memang sedang sedikit capek tertuju ke si anak itu, kasian... kecil-kecil sudah disuruh minta-minta, padahal anaknya terlihat sehat, gempal dan bajunya pun tidak kumal. Dengan wajah yang datar tanpa ekspresi, dia mengucapkan terima kasih setiap menerima pemberian uang dari mobil-mobil di depan gue.

Gue baru inget, gue punya permen dan jelly yang memang sengaja gue taruh dalam tas. Saat si anak perempuan itu sedang meminta ke mobil pas di depan gue, tangan gue langsung segera merogoh tas dan terambil-lah sebuah jelly inaco rasa strawberry. Saat si anak sudah berada di samping kaca mobil gue, gue buka jendela dan mencemplungkan jelly itu ke dalam gelas aqua bekas yang dia pakai untuk ngumpulin receh2an.

Tau gak? Pas melihat apa yang gue kasih, wajahnya langsung ceria, jelly itu langsung diambil dan dimasukkan ke kantong celananya, seraya dia berkata, "Terima kasih, Mba!" dengan senyum dibibirnya.

Dia sempat melanjutkan minta-minta ke beberapa mobil di belakang gue sebelum lampu merah berubah menjadi hijau. Sambil mengantri belok kanan, gue lihat dia sedang menikmati jelly pemberian gue sambil jalan merapat ke trotoar. Lalu gak disangka-sangka, dia kembali melayangkan pandangannya ke arah gue sambil senyum dan melambaikan tangannya. Sambil senyum dan melambai balik, gue langsung belok kanan melanjutkan perjalanan gue kembali ke kantor.

Sungguh, mendingan berikan makanan kepada anak2 kecil itu dari pada uang. Next time, gue mau siap-siap biskuit kecil di mobil!

Thursday, December 11, 2008

Malas Dengan Yang Tidak Biasa

Apakah ada diantara teman-teman yang lebih prefer Microsoft Word 2003 dari Word 2007? I am one of them. Simple aja sih, semua commandnya beda tempat hahaha… cenderung membingungkan, jadi pekerjaan yang harusnya bisa diselesaikan dalam waktu 5 menit kadang bisa jadi 15 menit karena harus nyari-nyari dimana posisi formatting yang kita inginkan.

Inilah dia penyakit orang kebanyakan, yaitu malas nyoba yang tidak biasa. Untuk mereka-mereka yang memiliki sifat adventure yang tinggi, tentunya malah menjadi tantangan. Tapi salah gak sih kalau kadang kita suka merasa nggak punya waktu untuk mencoba hal baru selain membiasakan diri pake Word 2007 ? Hehehehe….. Efek samping lain dari Penyakit ini yang menimpa gue adalah, gue gak bisa pake telpon merk lain selain Nokia……. huuuuuuuuuuu

Kalau dilihat dari sisi Marketing, inilah yang menyebabkan brand-brand International sampai rela mengeluarkan budget berlimpah untuk kampanye marketing mereka. Karena berbagai Negara, ada saja orang-orang yang ogah mencoba, seperti kata pepatah: Tak Kenal Maka Tak Sayang. Coba lihat nasib dan perjuangan brand-brand lain yang berusaha meraih market share Coca-cola, Teh Botol dan Aqua. Hm… agak sulit tuh! Brand-brand yang sukses menjadi leader mengalahkan pioneer-pioneer yang sebelumnya sudah ada seperti Indomie yang mengalahkan Supermie, terus adalagi MacIntosh yang memilih untuk berada di positioning yang berbeda dan menciptakan “cult” sendiri yang terdiri dari para user Mac yang fanatic, adalah contoh sukses yang patut ditiru. Mereka berhasil merubah orang yang malas mencoba menjadi penggemar, kalau bisa kecanduan sekalian … ck ck ck ….

Kenapa gue nulis kayak beginian? Karena gue lagi sebel sama kondisi perekonomian Indonesia yang kian melesu. Di saat-saat ekonomi genting seperti ini, ada saja oknum-oknum perusak harga yang menggunakan bahan-bahan dengan mutu yang di bawah standard, sehingga meskipun mutunya sangat buruk, orang tetap beli karena tergoda untuk mencoba karena harganya yang murah, terus buntut-buntutnya nyesel sendiri dengan efek-efek samping yang timbul. Dooohh…. Meski budget sedang terbatas tapi harusnya belanja dengan bijaksana, bukan?

Selain dengan cara banting harga supaya murah dengan mempermainkan kualitas, apakah ada cara lagi untuk merubah pola pikir “malas nyoba” menjadi “mari nyoba” yah? Mudah-mudahan ada cara deh, I’m open to suggestions karena dalam diri gue sendiri masih belum rela berpisah dari Word 2003 dan Nokia hehehehe…